
Pohon-pohon hitam tegak berbaris mengawal jalanan. Batangnya merentang kokoh, daun-daunnya menari ditiup angin malam, mengusik siapa saja yang lewat di sekitarnya. Cahaya bulan tidak menerangi, ia hanya membuat bayang-bayang aneh mencekam karena pohon-pohon yang memainkannya. Tidak ada rumah bermil-mil jauhnya sampai tiba di putaran ketiga belas. Sementara itu dua makhluk malam berdiri di salah satu pohon besar tepat di sebuah tikungan pinggir jalan. Yang satu berdiri tegak dan terlihat gemuk karena dipenuhi bulu-bulu tebal kecoklatan dengan kepala yang tidak berhenti menggeleng. Sedangkan yang lainnya bergelantung terbalik di sebelahnya, hitam, khusu bersedekap. Mereka adalah burung hantu dan kelelawar.
Si burung hantu menatap jauh menembus pepohonan mengikuti laju sebuah mobil merah. Ia berkata, “Ketika seorang manusia kehilangan yang dicintainya, kebanyakan dari mereka kehilangan akal sehat dan lebih memilih untuk berandai-andai”
Jangkrik merupakan paduan suara yang cocok untuk keheningan. Alam memainkan lagu sedih tentang perpisahan sepasang kekasih, mengiringi kesedihan seorang pemuda di dalam mobil itu.
Kelelawar sangat menghormati burung hantu. Sayangnya, ia kerap tidak paham apa yang diucapkan burung hantu padahal ia ingin sekali menanyakan ketidaktahuannya. Ia urung berkata karena takdir yang membuatnya tergantung terbalik sehingga susah untuk berucap.
“Lihatlah pemuda itu. Katakan padaku jika ia sedang menangis” kata burung hantu yang terkadang lupa jika kelelawar kerap kesulitan untuk mejawab. Kelelawar menyangka bahwa burung hantu sedang menyindirnya.
Dua makhluk itu memiliki firasat yang kuat, tapi burung hantu lebih pandai menggunakannya. Ia selalu dapat membaca sesuatu dibalik kejadian nyata. Kecerdasannya diakui hewan-hewan lain bahkan pepohonan. Namun bagaimanapun cerdasnya si burung hantu, hanya penulis yang tahu nama si pemuda dalam mobil merah. Ia bernama Nicholas Pescossa. Dan ia memang dalam kesedihan.
“Aku tidak seharusnya membiarkanmu pergi” Nick berkata penuh penyesalan “Aku tidak seharusnya membiarkanmu pergi. O, andai waktu bisa terulang, aku tidak seharusnya membiarkanmu pergi.”
“Hidup yang pendek dan ia sedang menyia-nyiakannya” burung hantu berkata demikian karena melihat sebuah truk datang dari arah berlawanan mobil merah itu. Ia memastikan Nick akan bertabrakan tidak lama lagi.
Tapi Nick dapat menghidari kecerobohannya meskipun ia harus melanggar pagar pembatas jalan dan meluncur deras ke dalam jurang dangkal, melewati semak-semak tinggi dan menghindari pohon-pohon yang berusaha menangkapnya. Sebuah pohon besar berhasil menghadangnya dengan hebat, hentakannya membuat burung malam berterbangan. Tidak ada rintihan atau teriakan dari dalam mobil.
Alam kembali sepi. Mereka mencoba mendengar nafas pemuda malang itu sambil menghitung irama detak jantungnya. Beberapa saat kemudian pohon-pohon kembali menari-nari, burung-burung kembali ke sarangnya masing-masing, alam kembali memainkan lagu. Namun kali ini mereka memainkan lagu kematian sedangkan jangkrik bukan merupakan paduan suara yang cocok.
“Dia tidak mati. Dia akan hidup dalam mimpinya” kata burung hantu.
Tidak ada gerakan di dalam mobil naas itu kecuali jarum jam tangan milik Nick yang berputar balik dan semakin lama putaran itu semakin cepat. Kejadian keseharian berulang kembali. Langkah-langkah terbalik, percakapan-percakapan tanpa arti berlalu di pikirannya. Hingga semuanya kembali normal ketika ia membuka mata.
Nick berada di waktu dan tempat yang berbeda, terbaring di ranjang yang empuk. Matahari pagi masuk melalui celah-celah tirai, menyilaukan mata yang baru terbuka. Ia menggerak-gerakkan badannya yang kaku, mengusik tidur seorang perempuan yang duduk di samping ranjangnya. Dua manusia dikejutkan dengan kehadirannya masing-masing. Nick terkejut melihat seseorang yang ia cintai hadir kembali sedangkan sang perempuan gembira menyambut Nick. Mereka saling bertatapan.
Lima hari yang lalu Nick ditinggal mati perempuan itu. Kematiannya merupakan sebuah mimpi buruk, dan untuk itu ia harus bangun untuk mengakhirinya. Namun amarah membuat akal sehatnya menyerah dan berkali-kali ia menyalahkan dirinya karena membiarkan kekasihnya pergi. Sekarang kehadiran kekasihnya seperti sebuah mimpi, dan jika benar adanya maka ia berharap tidak akan pernah bangun. Saat ini adalah kenyataannya dan ia tidak peduli bagaimana kekasihnya kembali. Ia tidak ingin kekasihnya pergi lagi.
Hari berikutnya ia pulang ke rumahnya. Rumah mungil yang ia bangun dengan tangannya sendiri, salah satu wujud dari sekian banyak mimpi mereka. Perabotan yang bersih, bunga-bunga di pot gantung, sapu yang berdiri di samping pintu masih berada di posisi yang sama seperti lima hari yang lalu. Almenak pun masih menggantung di angka 5, hari sabtu, satu hari menjelang kematian Maria, kekasihnya.
***
Di putaran waktu sebenarnya, burung hantu dan kelelawar terbang menghampiri mobil naas itu. Mereka berhenti dan bertengger di sebuah cabang pohon. Di dalam mobil, Nick masih tidak sadarkan diri. Dalam hitungan jam ia bisa kehilangan nyawanya karena darahnya tak berhenti mengalir dari kepalanya. Seseorang yang kebetulan melihat kejadian itu segera menghubungi emergensi dan satu jam kemudian raungan sirine ambulan dan polisi sudah memenuhi tempat itu.
“Manusia malang” kata burung hantu
Di putaran waktu lain, Nick sedang berdiri di depan pintu, memandang ke halaman rumahnya. Pakaian yang dijemur melambai-lambai pelan, langit berwarna abu-abu, angin bertiup sedang. Ia termenung memikirkan kejadian ini; Lima hari yang lalu ia mengalami hal serupa, termenung di depan pintu dan memikirkan sang kekasih yang kegirangan meraih impiannya. Lima hari yang lalu ia melepas Maria pergi ke Paris untuk memperkenalkan desain terbaru untuk pakaian musim panas dan bertemu perancang-perancang terkenal dunia. Lalu, lima jam kemudian ia akan mendengar berita bahwa yang ditumpangi Maria jatuh. Tidak ada yang selamat.
Angin sore semakin kencang, Nick tahu apa yang akan dilakukan persis seperti lima hari yang lalu. Ia berjalan mengangkat pakaian yang berkibar-kibar, memungut beberapa pakaian yang jatuh, kemudian kembali ke dalam rumah dan meletakkan pakaian itu di kursi depan. Kemudian ia duduk menghitung waktu dan mengingat-ingat setiap kejadian hari itu.
“Sepertinya akan ada hujan besar … semoga tidak akan ada masalah” ucap Maria yang datang membawa secangkir teh dan kue-kue kering di atas piring keramik. Ucapannya sama seperti lima hari yang lalu. Ia duduk di sampingnya, meletakkan tangannya di pundaknya dan membisikkan sesuatu di telinga Nick. “Aku mencintaimu”
Nick menatapnya dengan penuh keyakinan, matanya berkaca-kaca. Lima hari yang lalu ia tersenyum mendengarnya dan berkata: “Maria, kau akan menjadi desainer terkenal.”
Tapi hari itu ia tidak akan mengatakannya.
“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu” Nick berkata demikian sebagai gantinya
“Tentang Paris?”
“Bukan. Ini cerita tentang seorang pria kesepian yang ditinggal pergi kekasihnya”
“Cerita tentang kau?”
Nick tidak menjawab, ia meneruskan ceritanya.
“Pria itu ditinggal mati kekasihnya karena sebuah kecelakaan pesawat. Dia sangat kehilangan dan menyesal karena membiarkannya pergi. Berkali-kali dia menyalahkan dirinya karena dia seharusnya tidak membiarkan kekasihnya pergi. Dia marah, menangis dan terkadang tertawa untuk menghilangkan kesedihannya. Dia berdo’a agar Tuhan mau memutar ulang waktu sesaat sebelum kekasihnya pergi sehingga dia bisa mencegahnya. Kautahu apa yang terjadi kemudian?”
Maria menggeleng kepala.
“Tuhan mengabulkan do’anya. Tuhan membawanya ke satu hari sebelum kekasihnya pergi”
“Lalu pria itu berhasil menyelamatkan kekasihnya?” potong Maria
Nick menggeleng kepala, “Aku tidak tahu” ia kemudian terdiam. Terdiam dalam bayangan kecelakaan pesawat yang menimpa Maria.
“Biar kulanjutkan cerita itu” kata Maria antusias, membetulkan letak duduknya supaya lebih rapat pada Nick, dua tangannya di pundaknya dan dia berbisik di telinganya “Pria itu bicara lembut pada kekasihnya dan membujuknya agar tidak pergi. Tapi kekasihnya tidak percaya cerita itu, menurutnya dia mengada-ada. Pria itu bersikeras hingga membuat kekasihnya terpukul”
Kemudian Maria menunggu jawaban Nick. Tapi Nick membalas tatapannya dengan tatapan sedih.
“Aku tidak ingin kau pergi ke Paris” jawabnya
Maria tersenyum tipis, menganggap Nick sedang bergurau “Kenapa Nick?”
“Aku hanya .. tidak ingin kau pergi. Aku ingin melihat wajahmu saat aku bangun tidur, aku ingin menatap wajahmu saat makan malam, aku ingin bersamamu tiap hari.”
“Sayang, bukankah aku selalu di hatimu?”
“Aku tahu Paris sangat berarti bagimu, tapi percayalah kau lebih berarti bagiku di sini”
“Nick, kita sudah lima tahun bersama. Kau tahu aku sangat menantikan ini” kata Maria lembut
“Maria, dengarlah. Dengarlah Maria” Nick menatap jauh ke dalam dua matanya “Maria … akulah pria itu”
Maria mengangkat kepalanya dari bahu Nick, memandangnya penuh keheranan
“Maksudmu?”
“Aku adalah pria dalam cerita itu, dan kau adalah perempuan itu” jawab Nick. “Jam lima nanti pesawatmu jatuh. Ini bukan mimpi, aku menyaksikannya di TV. Mengerikan Maria .. mengerikan.”
Maria mencoba mengerti. Ia tahu kali ini Nick berkata serius. Tapi mereka sudah membuat kesepakatan. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan jika tidak jadi ke Paris: karirnya akan tertunda dan ia akan mengecewakan perusahaan yang mensponsorinya.
“Tidak Nick. Aku tetap pergi. Kautahu apa yang terjadi jika aku gagal ke Paris.”
“Kau akan mati, Maria.”
“Berhenti, Nick! Berhenti bicara tentang kematian!” ia berlari meninggalkan Nick menuju kamarnya. Nick dapat mendengar Maria mengunci pintu kamarnya.
Nick tidak habis pikir bagaimana Tuhan membuat rencana. Ia sangat menyayangi Maria dan ia akan melakukan apa pun untuk mencegahnya pergi. Tapi ia tidak perlu bersusah payah melakukan itu karena Maria mengunci dirinya di kamarnya. Ia menghabiskan waktunya di depan TV, menanti berita itu datang. Tidak ada tanda-tanda Maria akan keluar dari kamarnya. Ia melihat jam di dinding. Beberapa menit lagi berita itu akan muncul di TV.
Bayangkan dunia seperti yang dijalani Nick. Apakah Tuhan akan benar-benar merubah kejadian yang telah berlangsung atas rintihan hamba-Nya? Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, namun Tuhan menciptakan keseimbangan di dunia. Kesedihan dan kebahagiaan duduk berdampingan dimana kebahagiaan sejati datang setelah melewati penderitaan yang berat.
Maria datang pada Nick dan memeluknya dari belakang. Maria merupakan sosok yang religius. Ia yakin Tuhan akan menggantikan karirnya dengan yang lebih baik atau mungkin karirnya hanya akan tertunda.
“Mudah-mudahan kau benar, Nick. Kau mungkin bisa menyelamatkan seluruh penumpang”
“Tidak Maria. Mereka mati setengah jam lalu”
***
Paramedis mengangkat tubuh Nick dan membawanya ke dalam ambulan. Suara sirine kembali melengking. Beberapa orang masih berada di tempat itu, mereka adalah polisi, wartawan dan seorang pria yang melaporkan kejadian itu. Dua makhluk malam kita mengikuti ambulan dari kejauhan. Burung hantu di depan, kelelawar mengikutinya di belakang.
Untuk kedua kalinya Nick terbaring di rumah sakit. Namun kali ini adalah benar-benar nyata. Ia dapat merasakan perih lukanya dan kepalanya yang pusing berat. Saat itu pula ia menangis karena masih mengingat Maria. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Maria. Mungkin kecelakaannya ini adalah pintu untuk menyusul kekasihnya. Ia mencoba untuk tidak membuka matanya karena ia ingin hidup dalam mimpinya.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh tangannya, kemudian belaian di rambutnya. Ia membuka matanya perlahan dan samar-samar melihat seorang perempuan tersenyum. Maria, kekasihnya, kembali.
Ia membalas senyumnya, menggengam erat tangannya dan menciumnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkannya sekarang.
“Mama sakit” Maria berkata. “Aku tidak pergi ke Paris”
Nick tersenyum, air mata jatuh di pipinya.
“Aku menghubungi rumah, tapi kau tidak ada”
Nick kembali mencium tangan Maria, lalu menempelkan pipinya di atasnya.
“Kau masih hidup” kata Nick lemah
“Aku selamat, Nick. Aku tidak di pesawat itu.”
Nick merasakan dadanya sakit dan kepalanya bertambah berat. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
“Tuhan membawaku ke mama. Aku bersyukur sekali”
Nick tersenyum mengingat kebodohannya sendiri. Menyesali kepergian kekasihnya yang tidak pernah pergi dan membiarkan dirinya terombang-ambing dalam harapan-harapan kosong. Mungkin kecelakaan ini sebagai ganti kekasihnya dengan dirinya atau sebuah teguran dari Tuhan.
Di luar ruangan itu, burung hantu dan kelelawar menyaksikan Maria menangis memeluk tubuh Nick. Sementara di pohon yang lain seekor burung gagak mengepak-ngepak sayapnya beberapa kali, lalu mengangkat paruhnya. Ia mengucapkan sesuatu yang burung hantu dan kelelawar tidak ingin mendengarnya.
“Aku benci makhluk itu” kata burung hantu. “Ia hanya menyanyikan lagu-lagu kematian dan tidak pernah menghitung harga kehidupan” kepalanya bergoyang, lalu ber-uhu beberapa kali.
Angin menggoyang pohon. Tapi sepertinya pohon sedang mencoba mengusir makhluk-makhluk malam itu, membuat kelelawar yang ikut dalam kesedihan Maria menjadi terusik. Lagipula, pikirnya, kehadiran burung gagak membuatnya tidak nyaman.
“A … a … aku setuju denganmu” kata kelelawar yang bersusah payah mengucapkannya. “A … a … ayo kita pergi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar