Perempuan itu selalu duduk disana, di balik jendela besar kamarnya. Sejak hari pertama aku pindah ke desa ini. Matanya memandang liar ke rumput, tanah, bahkan angin yang kasat mata. Sesekali dia tengadah melihat langit, menerawang.Wajahnya cantik, hidungnya yang setengah menempel ke jendela, bertulang ramping dan mancung. Garis pipinya tipis, halus tapi menyiku. Kulitnya putih, entah karena memang demikian dia tercipta, atau karena rajin merawat diri. Rambutnya diikat keatas, beberapa dibiarkan berserakan di sekitar pipi dan kuping, beberapa anak rambut tertinggal di bagian tengkuknya yang bersih dan jenjang. Aku melihatnya begitu jelas saat sedang mengantarkan undangan jamuan makan ke rumah itu.
Namanya Calya. Seperti namanya yang berarti tanpa cacat, dia begitu sempurna. Matanya berwarna hitam pekat, putihnya jernih. Pernah aku bertatapan tanpa sengaja dengannya, aku rasa aku jatuh cinta. Aku bertanya-tanya, tidak bosankah dia? Kenapa dia tidak pernah pergi keluar dan bermain seperti gadis-gadis lain? Apakah orang tuanya tidak mengizinkan? Aku ingin mengenalnya. Mengajaknya ke festival kota, mengajarinya naik kuda atau sekedar memamerkan kemampuanku dalam menembak dan berburu.
Suatu hari ketika Ayah dan Ibundanya pergi, aku memberanikan diri mendekati jendela. Calya tersentak sedikit, terkejut mungkin. Aku tersenyum, menuliskan sesuatu di selembar kertas, kutempelkan di jendela transparannya,
“Selamat siang! Aku Jevera, dari rumah depan.” Calya tersenyum, cantik sekali. Dia berdiri mengambil sebuah buku di laci sebelah jendela, menulis sebentar lalu membalasku,
“Aku Calya, senang berkenalan denganmu, pembawa kehidupan.” Aku tertawa, menulis dengan cepat, “Bagaimana kau tahu arti namaku?” Calya membalas sambil tersenyum mengejek.
“Aku menghabiskan waktuku dengan membaca. Kitab Ibrani sudah kuhafal sejak aku berumur 13 tahun, tuan muda.” Aku tertawa kuat-kuat. Gadis ini cerdas, bukan hanya sekedar cantik. Sungguh, tanpa cela. Suara mesin mobil terdengar mendekat, aku bangkit berdiri dan menulis untuk terakhir kali,
“Aku akan kembali, senang berbicara denganmu, Calya.” Dia membalas dengan senyum lebar yang semakin mempercantik wajahnya. Aku berlari cepat-cepat keluar halaman. Takut ketahuan telah menyelinap dan berbicara dengan putri cantik mereka yang disimpan seolah pajangan.
Perempuan itu selalu duduk disana, kali ini dengan aku di bawah jendelanya. Beberapa kali sesudah kejadian pertama. Melalui tulisan, kami berbicara tentang kota, tentang dunia, tentang dongeng, politik yang merugikan, tentang tokoh-tokoh hebat legendaris, tentang filsafat, dan hampir semua hal.
Calya belum tahu apa itu musang, belum pernah memegang kelinci, atau bagaimana rasanya mengendarai kuda. Dia tidak pernah berbelanja ke kota, Calya si gadis sempurna yang belum pernah melihat dunia luar. Maka aku berjanji, suatu hari nanti akan membawanya melihat peradaban. Menikmati udara yang panas tetapi lembab di luar sana. Calya menolak, takut orangtuanya marah. Kata mereka berada di luar berbahaya baginya. Aku meyakinkan.
Aku menunggu senyap untuk melarikan si putri kesayangan, menerobos malam. Menjelajah lampu-lampu kota dan pusat hiburan disana. Dia sekarang berada di depan, dalam pelukanku di atas Eleanor, si kuda kesayangan. Kami bercengkrama, merasakan kulitnya yang halus, bibirnya yang kenyal dan merah, menciumi pipinya yang tirus tapi menggemaskan, menciumi bau harum rambutnya, bercinta diantara lampu, merasakan asin keringatnya di tubuhku. Aku benar-benar jatuh cinta, itu kuucapkan sebelum menutup kembali jendela kamarnya. Calya tersenyum mengucapkan selamat malam.
Perempuan itu selalu duduk disana, dengan gorden terbuka dan jendela transparan. Tapi keesokan harinya dia tidak ada di balik jendela. Aku mencoba menepis khawatir, tidak mungkin ada yang tahu tentang malam itu. Kuawasi sampai beranjak malam lagi, dia tidak juga muncul disana. Aku tertidur menunggu pagi.
Menjelang seminggu dia masih tidak terlihat, Ayah menyerahiku tugas pergi ke ujung negeri. Beberapa hari perjalanan, aku titipkan surat kepada perempuan setengah baya yang biasa mengurus bunga di rumahnya, “kepada Calya, tolong disampaikan.” Perempuan berwajah keibuan itu mengangguk pelan.
Perempuan itu selalu duduk disana, tapi bukan dia yang kulihat ketika kembali. Kemana gadis sempurnaku? Apakah keluarganya telah pindah ke kota lain? Di pinggir jendela sekarang duduk seorang gadis dengan wajah merah berbintik-bintik. Beberapa bintik itu malah sudah mengeluarkan nanah. Hidungnya hampir tidak berbentuk, ada beberapa goresan kasar yang merusak bentuk wajahnya keseluruhan. Tentu itu bukan dia. Dimana Calya?
Sang tukang kebun tidak ada, bertanya kepada tuan rumah aku hanya mendapat jawaban pelan bahwa anaknya sudah pergi, entah kemana. Aku terdiam, patah hati pertama yang begitu menyakitkan. Perempuan tercantik tanpa cela yang kukagumi, meninggalkanku begitu saja. Aku tenggelam dalam depresi.
Perempuan itu selalu duduk disana, si buruk rupa yang mengganggu pemandanganku. Dia tidak seperti gadis terdahulunya, yang mengagumi rumput, bunga dan langit, gadis ini malah memperhatikanku. Melihatku tepat di mata, seolah berbicara. Mengawasi setiap gerakanku, pandangan matanya sedih dan rindu. Aku merasa jijik melihatnya, melihat cairan yang sering keluar dari bintik-bintik di wajahnya. Kuputuskan menerima tawaran Ayah menuntut ilmu ke negeri sebelah, aku berharap menemukan pencarianku disana.
*Dermatitis Atopik adalah penyakit alergi sejenis eksim, yang diderita anak sejak bayi. Penyakit ini biasanya berasal dari faktor genetika bawaan kedua orang tua. Penderitanya menjadi sangat sensitif terhadap udara panas yang lembab, perubahan cuaca, dan bakteri-bakteri lain yang berasal dari debu atau udara bebas. Alergi ini mengakibatkan bintik-bintik pada kulit. Pada tahapan tertinggi bisa mengeluarkan nanah, terdapat luka gores yang mendalam akibat reaksi kulit terhadap keringat, dan bercak merah di wajah dan bagian tubuh lainnya. Biasanya sembuh dengan sendirinya menjelang usia 5 tahun, tapi dalam beberapa kejadian ada yang berkembang hingga si anak tumbuh dewasa, bahkan sampai tua.
*Nocturne adalah komposisi musik yang dibuat untuk menjelaskan keadaan malam. Pada era pertamanya, jenis komposisi musik ini dibuat untuk menjadi iring-iringan pesta malam hari. Tapi salah satu Nocturne yang paling terkenal di dunia dibuat oleh Frederic Chopin, menceritakan tentang kesepian dan rasa sakit di malam hari karena kehilangan kekasih.
is this yours? its truly amaze me....
BalasHapus